Arsip untuk Februari, 2010

Memori lembang

Lembang, 20 Februari 2010 di sebuah villa tepatnya sekitar pukul 10 malam…,

Ada kurang lebih 100 mahasiswa fisika ITB dari berbagai angkatan yang tergabung dalam satu himpunan berkumpul dalam ruang tengah villa tersebut. aku ada di antara mereka sebagai angkatan termuda. Saat itu perut kami sudah kenyang karena sebelumnya sudah makan malam yang cukup gila2an. Oke, kami duduk di ruang tengah itu dan di depan kami ada 4 orang pria, mereka tidak lain adalah angkatan 2003 yang telah lulus dan merupakan sesepuh di himpunan kami. Hanya 2 orang yang aku kenal yaitu Kang Izul (Zulkaida Akbar) karena beliau adalah mantan presiden KM ITB 2007-2008 dan satu lagi adalah Kang Zamzam.

Dalam suasana yang cukup santai tersebut, mereka secara bergantian berbagi cerita kepada kami mengenai pengalaman mereka selama berkarier di kemahasiswaan ITB. Cukup menarik karena mereka boleh dibilang bergerak mulai dari bawah, seperti contohnya menjadi bagian pembuat dan penempel poster di areal kampus. Akhirnya karir mereka naik secara bertahap menuju posisi yang cukup strategis di kemahasiswaan ITB. Apa yang mereka ceritakan sejujurnya ada sebagian yang membuat aku tersadar akan apa kekuranganku selama 7 bulan berkarier di himpunanku.

Malam semakin larut dan akhirnya klimaksnya terjadi saat Kang Zamzam memulai pembicaraanya. Setelah memperkenalkan diri, beliau meminta kepada semua massa di hadapannya untuk berdiri dan kami bangkit dari duduk.

Kang Zamzam : “Nyanyikan lagu Hidup HIMAFI !!!!”

Kamipun menyanyikan lagu kebanggaan kami sambil bertepuk tangan…

Seluruh massa :

” Di dalam keremangan di bawah terik matahari…/ Letih dan lelah yang kurasakan tak membuat hatiku gentar… / S’gala rintangan akan ku hadapi, s’mangat jiwa HIMAFI…/ Hanya ada satu cita di dalam hati HIMAFI kita HIMAFI… / Hidup HIMAFI, hidup HIMAFI, HIMAFI wahana kami…. /Hidup HIMAFI, hidup HIMAFI, HIMAFI wahana kami………”

Kang Zamzam : ” SEMUA DIAMMM……!!!!!”

Baru saja kami mau berhenti mengatupkan tangan, beliau memberi komando tersebut. Suasana mendadak jadi hening.

Kang Zamzam : (sambil menunjuk salah seorang di antara kami ) ” Apakah kamu cinta Indonesia ? ”

Seorang pria 1 : ” Ya!”

Kang Zamzam : (menunjuk seseorang lagi ) ” Kamu cinta ?”

Seorang pria 2 : (dengan tegasnya menjawab) ” Ya, saya cinta Indonesia!”

Suasana saat itu mendadak sedikit menegang, persis saat kita dulu menjalani kaderisasi demi mendapatkan jaket biru kebanggaan kami. Rasanya saat itu benar-benar tidak ada pembeda antara satu angkatan dan angkatan lainnya, entah itu swasta ataupun angkatan baru. Semua seolah bernasib sama, yaitu seperti sedang menjalani kaderisasi untuk ke sekian kalinya.

Setelah beberapa orang beliau beri pertanyaan yang sama, akhirnya beliau menunjuk salah seorang wanita berjilbab yang tak lain adalah angkatanku (2008 tentunya).

Kang Zamzam : (sambil menunjuk ke orang yang dimaksud) ” Kalau kamu cinta Indonesia?”

Seorang wanita : “Ya, saya cinta Indonesia…”

Kang Zamzam : ” Kamu cinta…?”

Seorang wanita : ” Yang saya cinta…”

Kang Zamzam : ” Kamu cinta saya atau tidak……?”

!@!@$#&%^(?><+=)(^())!@!!”:{}{~@!&……………………………………

Mendadak seluruh ruangan begitu riuh dengan tawa dari semua massa yang ada. Suasana yang sebelumnya agak menegangkan, akhirnya cairlah ketegangan itu. Kang Zamzam bilang kalau sandiwara tadi merupakan cara beliau untuk membangkitkan semangat kita lagi untuk mengikuti acara malam itu. Mungkin saja beliau melihat kami sudah loyo bahkan ngantuk apalagi udara di sekitar dingin sekali.

Akhirnya acara berlanjut hingga selesai sesi tersebut. Setelah itu, sebagai penutupan Irfan ketua angkatan 2006 memberikan sedikit wejangan untuk angkatan di bawahnya. Aku begitu tak menyangka bahwa Irfan yang selama ini demen banget ‘geloin’ saya karena say sering ngga ngumpulin laporan praktikum elka semester lalu, ternyata adalah orang penting di angkatan 2006 (walaupun setahu saya dia tidak memegang BP HIMAFI setahun sebelumnya ). Dari wejangan yang dia sampaikan, saya hanya menangkap satu hal : Barangkali inilah sebuah salam perpisahan dari angkatan 2006 yang tak lama lagi lulus satu per satu.

Ya, penggalan cerita di atas merupakan penggalan pengalaman saya saat mengikuti LKO HIMAFI di Lembang tanggal 20 Februari 2010 silam…

Upssss…., lupa.  Ini adalah sebagian dari hasil foto2 rekan seangkatan saya saat di villa tersebut. Maaf, saya ngga ada di foto ini 😀

,

1 Komentar

Kucintai Segala Konsekuensinya….

Benar, memang bagi saya ada yang istimewa dalam lagu “Kucinta Kau Apa Adanya”. Ngga cuma karena yang menyanyikannya adalah seorang penyanyi yang saya idolakan yaitu Elfonda Mekel a.k.a Once DEWA19, tetapi lagu ini memberi sebuah kenangan tersendiri buat saya. Saya pertama kali mendengarkannya kira2 menjelang akhir tahun 2007 silam, tepatnya ketika saya masih duduk di kelas 3 SMA dan apa yang diceritakan dalam lagu ini benar2 mengena dengan apa yang saya alami saat itu (hehee…bosen lagi2 curhat mode: ON 😀 ). Saya mengaku saat itu begitu mengagumi seorang wanita yang tak lain adalah teman lama saya. Namun sayangnya saya merasa bahwa dia agak mengacuhkan saya sejak tidak sekelas lagi dan sepertinya dia mulai kembali dekat dengan teman saya sendiri.

Awalnya saya begitu kecewa melihat hal itu (maklum anak muda), tapi setelah mendengarkan lagu ini saya jadi kembali optimis menghadapi realita tersebut. Saya kembali percaya diri dan yakin bahwa suatu saat nanti dia pasti akan berubah (ngarep mode : ON ). Okelah ini lirik beserta kord lagu Kucinta Kau Apa Adanya….


D E A G F#m E A

D C#m Bm
Kau boleh acuhkan diriku
G D Em
Dan anggap ku tak ada
G A Bm Em
Tapi takkan merubah perasaanku
A
Kepadamu

Kuyakin pasti suatu saat
Semua kan terjadi
Kau kan mencintaiku
Dan tak akan pernah
melepasku

D
Aku mau mendampingi dirimu
Bm Em A
Aku mau cintai kekuranganmu
D F# Bm
Selalu bersedia bahagiakanmu
F# G
Apapun terjadi
Gm A D
Kujanjikan aku ada

D Em A G F#m E A

Kau boleh jauhi diriku
Namun kupercaya
Kau kan mencintaiku
Dan tak akan pernah
melepasku

Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Aku yang rela terluka
Untuk masa lalu

Interlude : D Em A 2x
D Em A Bm Em G Gm

Ngga cuman kisah saya yang di atas tadi yang bikin lagu ini punya kenangan tersendiri buat saya. Ceritanya begini, pas UAS praktek Bahasa Indonesia di SMA saya dulu semua peserta ujian harus mencari makna tersirat dan tersurat dari setiap syair lagu. Waktu itu kalau ngga salah ada 3 lagu, dan salah satunya adalah lagu ini. Entah mujur atau gimana, guru penguji saya kebagian lagu ini. Oke, berhubung ini lagu favorit saya waktu itu saya agak2 girang dalam menjalani ujian sesi kali ini.

Pertama-tama saya ditanya mengenai makna tersurat dalam lagu ini. Saya pun dengan bangganya menjawab (sedikit curcol juga) :

“Lagu ini mengajarkan kita bahwa jangan sampai kita megacuhkan seseorang yang punya perasaan terhadap kita.”

Setelah itu ibu guru penguji saya menanyakan suatu hal:

“Oke, itu kalau makna tersuratnya kalau makna tersirat bagaimana?”

Entah kenapa saya saking semangatnya saya langsung saja menjawab tanpa tahu kalau sebenarnya saya salah kaprah dalam membedakan makna tersurat dan makna tersirat:

“Hmmm…., ya itu tadi bu. Jadinya kita musti peduli sama perasaan seseorang dan jangan sampai acuh.”

Si ibu lalu berkata begini:

“Lha…, itu kan makna tersuratnya. Kan tadi udah disebutin apa. Kamu tau ngga makna tersirat itu apa?”

Seketika saya bingung ngga bisa apa2. Seolah-olah saya udah kehabisan “ide” untuk menjawab pertanyaan yang diajukan beliau.

Melihat keadaan saya yang ngga berkutik sedikitpun, akhirnya beliau berkata pada saya:

Indra, kamu sekarang punya cita2 apa?

Saya jawab saja:

Euhhh…., jadi musisi bu….

Kemudian beliau bilang lagi (seingat saya lhooo…):
“Oke, sekarang cita2mu ada di sini dan kamu ada di sana. Jadi, untuk mencapai apa yang kamu inginkan ini pastinya perlu perjalanan karena tujuanmu itu masih jauh. Nah, dalam melakukan segala sesuatu termasuk di dalamnya perjuanganmu untuk mencapai cita2mu pastinya ada resiko yang harus dihadapi selama kamu masih menginginkan apa yang kamu cita2kan itu”
Saya pun mulai mengerti sedikit :

“Hmmmmmm………………………”

Beliau bilang lagi:

“Kan di lagu itu ada liriknya ‘ aku mau cintai kekuranganmu’ berarti kalau kita mencintai seseorang kita harus mau menerima kekurangannya apa adanya. Sama halnya dengan tadi, kalau kita mau sesuatu kita harus mau menerima segala konsekuensi saat kita mendapatkan apa yang kita mau itu”

Di sinilah saya baru mengerti:

” Ooooo…, begitu yang namanya makna tersirat. “

Heheee…, sempet malu juga gara2 ujian praktek masih sempet2 aja curcol. Tapi mau gimana lagi kalau memang keadaan saya yang seperti itu :p . Yah…., memang ada kesimpulan yang bisa saya ambil dari peristiwa ini. Salah satunya adalah belajar untuk menerima segala konsekuensi atas segala apa yang kita pilih dan lakukan, sebagaimana kita mencintai seseorang dengan segala kekurangan yang dimilikinya.

Tinggalkan komentar